FORUM IDEKITA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JAKARTA

Rabu, 25 November 2009

WAJAH GURU DI HARI GURU


Oleh: Dian Ayu Novalia
(Psikologi Pendidikan FIP UNJ 2005)

“…Guruku tersayang, guruku tercinta, tanpamu apa jadinya aku, tak bisa baca tulis, mengerti banyak hal, guruku, terima kasihku….”Terima Kasih Guru oleh AFI Junior

Lirik lagu di atas merupakan salah satu apresiasi besar terhadap eksistensi guru dari anak didiknya. Siswa juga merasakan urgensi guru bagi hidup mereka (Tanpamu, apa jadinya aku...). Siswa dengan wajah polosnya akan mengikuti ucapan guru. Bahkan tingkah laku guru pun mereka contoh. Tanpa guru, orang tua di rumah pun tidak dapat menjamin anaknya disiplin menekuni sebuah ilmu. Sebegitu pentingnya posisi guru, menjadikan guru lebih berhati-hati berucap dan bertindak baik di sekolah maupun di luar jam mengajar.

Mendidik adalah amanah kemanusiaan bukan sekadar pekerjaan mencari uang. Belum sarapan, rumah tidak sempat dibersihkan, kosmetik dipoles seadanya, hal itu tidak menjadi prioritas mereka. Anak didik yang haus akan ilmu pengetahuan menunggunya di kelas. Ketika berhadapan dengan mereka, guru harus fokus mengajar. Pikiran lainnya disimpan terlebih dahulu.

Hari Guru Sedunia jatuh pada 5 Oktober. Sedangkan di Indonesia, Hari Guru diperingati setiap 25 November. Ini merupakan hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Peringatan ini dimulai sejak 1994 dengan sebutan Hari Guru Nasional.

Euforia Hari Guru
Hari ini, ucapan selamat hari guru terdengar bukan hanya secara lisan, tetapi juga tulisan. Seharusnya pada hari jadinya ini, wajah para guru senang dan ceria. Realnya, wajah senang hanya topeng bagi kekurangan yang melingkupi hidupnya. Ketika mendidik siswa, kirutan wajah duka harus dihapuskan dengan senyum. Ikhlas mengajar menjadi landasan utama bagi guru. Selain peningkatan kompetensi dan pengetahuan. Ritme pengetahuan juga diperlukan oleh guru zaman sekarang. Anak didik dapat mengakses pengetahuan lewat dunia virtual secara luas. Pengetahuan guru pun harus diperluas pula. Membaca buku ditingkatkan, termasuk kegiatan menulis.

25 November telah disepakati menjadi Hari Guru Nasional. Berbagai pihak ikut memperingatinya. Berbagai seminar dan kegiatan dilaksanakan. Namun hiruk pikuk perayaannya hanya menjadi euforia belaka. Kapan kesejahteraan meningkat? Bagaimana pemerintah meningkatkan kompetensi guru? Seperti apa perekrutan guru profesional yang tepat? Bagaimana masa depan guru? Evaluasi apa yang telah dilaksanakan bagi kebijakan pendidikan yang telah digulirkan?

Hari Guru kiranya tidak menjamin kesejahteraan guru. Hari Guru juga tidak merubah peningkatan kompetensi guru. Hari Guru tidak akan mengubah kebijakan yang merugikan berbagai pihak. Sebut saja siswa yang bunuh diri karena tidak lulus UN. Lalu, apa yang akan dihasilkan dari peringatan Hari Guru?

Benang Kusut Profesi Guru
Sementara itu, pelik permasalahan masih dirasakan oleh sebagian besar guru di Indonesia. Walaupun telah ada sertifikasi yang bila mendapatkannya, guru akan menerima gaji tiga kali lipat tiap tiga bulan sekali. Namun, masih saja belum terlaksana dengan maksimal. Sertifikasi pun belum menjamin guru mengajar secara profesional. Terkait hal ini, Prof Dr Baedhowi Msi (Dirjen PMPTK) memaparkan hasil survei terhadap responden penelitian yaitu 3.670 responden di lima kota di antaranya Jakarta dan Solo, dimana 64,36% atau 2.362 guru terlihat masih stagnan alias tidak meningkat kompetensinya (Solo-Espos). Hasil penelitian tersebut berdasarkan uji kompetensi guru dari segi kepribadian, sosial dan pedagogik (akademik kependidikan). Uji sertifikasi ini pun masih perlu banyak pembenahan, seperti diskriminasi kuota guru negeri dan swasta serta penambahan 90 jam untuk guru yang tidak lulus sertifikasi.

Pengakuan menjadi guru profesional pun bisa didapatkan melalui sertifikat hasil Pendidikan Profesi Guru (PPG). Namun, PPG belum tertata dengan rapi dan tepat. Masih perlu pembenahan. Belum tampak jelas perbedaannya dengan Akta IV, pendidikan akademik guru, juga uji sertifikasi. Karena pelaksanaan pendidikan untuk PPG masih identik.

Keruwetan memenuhi wajah guru di Indonesia. Profesionalisme mendidik harus diterapkan. Mengesampingkan benang kusut permasalahan pribadi harus dilakukan. Namun, keadilan belum menyapa jua. Guru pun memiliki double job untuk mengatasi pelik permasalahannya. Khususnya bagi guru honorer. Akhirnya, menjadi tukang ojek, pencuci piring, honor di tiga sekolah, serta pekerjaan halal lainnya pun ditekuni. Karena apalah nilai gaji 200 hingga 400 ribu untuk memenuhi kehidupan keluarga.

Konklusi
Lalu, akankah kondisi guru masih dirundung kebimbangan. Masa depan guru juga ada pada Muh. Nuh selaku menteri pendidikan saat ini. Dengan jumlah guru yaitu kurang lebih 2,7 juta jiwa, bagaimana kondisinya setelah Hari Guru usai.
Guru sebagai pencerdas generasi muda memiliki posisi penting bagi kelangsungan dan eksistensi negara. Posisi guru harusnya menjadi posisi yang strategis, namun kenyataannya juga malah tragis.

Kamis, 19 November 2009

ANUGERAH 7 KEBIASAAN BAGI CALON PEMIMPIN BANGSA



RESENSI BUKU
Judul : The Leader in Me
Penulis : Stephen R. Covey
Halaman : 294
Ukuran : 15 x 23 cm
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun Terbit : Juni 2009

Peresensi:
Dian Ayu Novalia (Psikologi Pendidikan 2005)

Bila kita hanya berupaya mencapai nilai tes tinggi, saya khawatir kita akan menciptakan generasi anak-anak yang tidak dapat melakukan apa-apa selain mengerjakan tes dengan baik.
Muriel Summmers, Kepala Sekolah (A.B Combs Elementary)


Kini, tiap negara harus memutar otak untuk menyesuaikan dengan perubahan zaman yang serba cepat. Mereka berkompetisi mengunggulkan keunikan serta cipta kreasi untuk menunjukkan kehebatan. Jelas, ini tantangan. Pada dasarnya, tugas pemerintahlah untuk mengupayakan kinerja secara maksimal. Sistem harus dibuat agar warga negara tidak kaget teknologi dan informasi serta mampu berkompetisi. Bukan hanya siap peluru. Namun, membuat dan menembakkannya. Perlu cara untuk mempersiapkan individu-individu unggul.
Sekolah (pendidikan) adalah jawaban atas semua kekhawatiran yang menyelimuti wajah bangsa. Namun, pengajaran oleh guru membuat orang tua was-was dengan nasib anak-anaknya. Orang tua masa kini tahu bahwa anak tidak hanya butuh nilai baik, tapi pembekalan keterampilan hidup, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah hidup serta bagaimana berinteraksi ketika bekerja.

Jawaban atas kegelisahan guru
Meluncurnya pertanyaan-pertanyaan yang lahir dari kegelisahan pendidik dan orang tua itu dijelaskan dalam buku The Leader in Me karya Stephen R. Covey yang terkenal sebagai salah satu orang yang berpengaruh di Amerika. Buku ini mengisahkan perubahan yang dilakukan oleh beberapa sekolah yang ada di dunia setelah membaca dan mengikuti presentasi 7 kebiasaan (7 habits) yang dibawakan Stephen R. Covey. Salah satu orang yang terkena virus 7 habits yaitu kepala sekolah magnet A.B Combs, Muriel Summmers. Bersama-sama dengan guru dan orang tua serta pemimpin bisnis, mereka berdiskusi dan sepakat bahwa anak perlu berbagai macam bekal untuk masa depan, bukan hanya nilai tinggi. Anak perlu memiliki keterampilan analitis, melek teknologi, kreatif, kerja sama tim, dapat memecahkan masalah, memimpin diri serta bekerja dengan beragam latar belakang manusia.
Kegiatan diskusi tersebut dilakukan Muriel karena ingin mencari inspirasi untuk merubah tema sekolah magnet yang akan ditutup satu minggu ke depan apabila tidak ada perubahan. Dari pemaparan itu, ia pun teringat presentasi yang dibawakan oleh Stephen R. Covey mengenai 7 kebiasaan di Washington DC. Ketujuh kebiasaan itu adalah 1) Jadilah Proaktif (bertanggung jawab, inisiatif, tidak menyalahkan, melakukan yang terbaik), 2) Mulai dengan tujuan akhir (penetapan target akhir, visi dan misi), 3) Dahulukan yang utama (menetapkan prioritas, membuat dan merealisasikan jadwal), 4) Berpikir menang-menang (mencari alternatif bila terjadi perselisihan), 5) Berusaha memahami dahulu, kemudian berusaha dipahami (mendengarkan terlebih dahulu, kemudian bersuara), 6) Wujudkan sinergi (kerjasama tim), 7) Mengasah gergaji (beraktivitas secara teratur dan positif).
Akhirnya Muriel pun mengambil tema kepemimpinan pada sekolah magnetnya. Perlu beberapa hari untuk mensosialisasikan kepada guru karena mereka yang akan mengajar. Menyamakan persepsi adalah langkah utama. Konsistensi para guru untuk mempelajari 7 habits menjadi modalnya.
Awalnya, guru-guru mengalami kesulitan untuk menerapkan dalam mengajar. Ada beberapa guru yang mengundurkan diri karena menganggap angka ujian akhir lebih penting. Namun, Muriel dan guru yang setuju tetap melanjutkan. Sukses pasti akan dihasilkan, itulah kepercayaan diri mereka.Seiring dengan berjalannya waktu, siswa-siswa mengalami kemajuan dalam meningkatkan kemampuan diri dan nilai ujian. Guru-guru yang meragukan tema kepemimpinan ini pun akhirnya kembali ke A.B Combs untuk mempelajari 7 habits dan mengajarkannya.
Beberapa tokoh mengungkapkan kepemimpinan adalah cara mengatur orang lain. Seperti pendapat Kreiner, bahwa kepemimpinan yaitu proses mempengaruhi orang lain. Sedangkan Hersey menambahkan bahwa leadership adalah usaha untuk mempengaruhi individual lain atau kelompok. Namun, kepemimpinan yang dimaksud disini adalah kemampuan memimpin diri sendiri dan dapat bekerja sama dengan orang lain. Prinsip kepemimpinan ini berfokus membantu siswa bertanggung jawab atas kehidupan mereka, bekerja dengan orang lain, dan melakukan hal yang benar meskipun tidak diperhatikan.
Adapun pendekatan belajar yang digunakan yaitu ubiquitous (pendekatan yang disesuaikan dengan segala sesuatu yang ada di sekolah). Contoh penerapannya yaitu pada pelajaran Membaca. Guru meminta kelas V membedah puisi ”I Dream a World”. Setelah membahas kosakata, struktur, dan arti, guru membagi peran pemimpin kepada tiap tim seperti juru tulis, pencatat waktu, juru bicara serta menuliskan makna utama puisi yang dikaitkan dengan 7 habits dan dikerjakan dalam tim di karton. Prinsip kepemimpinan ini selalu dijalankan di tiap aktivitas. Bila ada pengunjung, beberapa siswa ditunjuk untuk menjadi pemandu. Kemudian siswa diajarkan berpidato di depan publik. Bahkan siswa dipercaya mewancarai calon guru yang akan mengajar di sekolah mereka. Siswa dan guru memiliki hak suara yang sama.
Di lain pihak, 7 habits ini juga dibawa ke rumah. Salah satu orang tua tercengang mendengarkan percakapan anak mereka. Anak sulung mengatakan kepada adiknya bahwa mereka harus bersinergi untuk bermain bersama, jadi tidak usah berkelahi (7 habits ke-6).

Panutan yang ditunggu tiap sekolah
Robert house menyampaikan bahwa kepemimpinan yang efektif menggunakan dominasi, memiliki keyakinan diri, mempengaruhi dan menampilkan moralitas tinggi untuk meningkatkan karismatiknya. Dengan kharismanya, pemimpin menantang bawahan melahirkan karya istimewa.
Inilah yang dilakukan Muriel yang dengan gaya kepemimpinan demokratiknya mengajak seluruh komponen ikut serta mengeluarkan pendapat serta merencanakan dan melaksanakan bersama. Kepercayaan diri kepala sekolah pun diikuti oleh guru-guru. Siswa tidak hanya pintar berbicara, bersosialisasi, juga prestasi akademik yang meningkat.
Beberapa sekolah lain pun mengikuti kurikulum yang dipakai A.B Combs. Sekolah itu diantaranya English Estates Florida, Chestnut Grove, Adams County Illinois, sekolah di Kanada, Singapura, dan Jepang..
Buku ini mengajak para pendidik di seluruh dunia untuk benar-benar memanusiakan peserta didik. Guru harus percaya bahwa siswa memiliki kemampuan bila mendapatkan wadah yang tepat. Selain untuk guru, buku ini dapat menjadi rujukan bagi pemerintah saat ini agar belajar bagaimana mengorganisir dan mengembangkan potensi siswa sesuai dengan tujuan mendidik siswa yakni siswa memiliki karakter, watak, dan kepribadian yang baik. Bukan hanya nilai yang baik. Sebab bangsa ini butuh asupan nilai-nilai kebijaksanaan dan moral lebih.

Ketika Mengemis dijadikan Alibi Karena Keterbatasan



Oleh : Ewa Purbowati
Mahasiswa Pendidikan Luar Biasa FIP UNJ 2008

Keterbatasan seringkali dijadikan hambatan untuk mendapatkan hak pekerjaan yang layak.Berbicara mengenai keterbatasan, banyak orang terutama yang ada di negeri tercinta Indonesia memiliki keterbatasan. Biasanya orang yang memiliki keterbatasan akan berusaha semaksimal mungkin untuk menutupi segala keterbatasan, menutupi dengan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Keterbatasan yang dimaksud disini adalah keterbatasan fisik, seperti tangan, kaki, penglihatan, pendengaran dan lain sebagainya.
Namun seringkali kita mendengar atau bahkan melihat secara nyata bahwa keterbatasan yang dimiliki seseorang dimanfaatkan untuk meminta-minta atau mengemis. Padahal bila ditilik, orang yang mempunyai keterbatasan ada kelebihan yang bisa mendukungnya, orang yang mempunyai keterbatasan juga mempunyai kesempatan yang sama dalam memperoleh pekerjaan yang layak. Kita sering bertemu dengan mereka saat di bus atau dipinggir jalan. Mereka mencari uang dengan cara seperti itu. Mereka seolah-olah merasa tak berdaya, tak bisa memperoleh pekerjaan yang lebih baik atau dengan kata lain, keterbatasan dijadikan alibi untuk pekerjaan-pekerjaan yang seperti itu. Mereka merasa tak mampu untuk mendapatkan pekerjaan layaknya orang-orang normal lainnya. Padahal sebenarnya mereka juga layak untuk mendapatkan pekerjaan layaknya orang-orang normal.
Pemerintah juga terkesan mengesampingkan orang-orang yang memiliki keterbatasan, seperti halnya pekerjaan. Paling tidak, ada tindakan dengan mendirikan yayasan atau organisasi yang memang khusus untuk menangani segala permasalahan-permasalahan yang dialami oleh orang-orang yang mengalami keterbatasan fisik. Sehingga mereka merasa benar-benar diperhatikan, terutama mengenai kesejahteraan hidupnya. Semoga juga bukan hanya menjadi sebuah angan-angan atau harapan semata namun dapat menjadi suatu kenyataan.

Bis Itu Bernama Pendidikan

Oleh: Annisatul Fitriah
Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah FIP UNJ 2007


Kalau sudah besar nanti, kamu mau jadi apa? Dokter...Polisi...

Itulah percakapan yang acap kali muncul antara orangtua dan murid. Percakapan sederhana itu seperti telah menjadi tradisi. Hampir setiap orangtua selalu menanyakan hal yang sama kepada anak mereka ketika anak tersebut sudah mulai dapat mengucapkan kata. Tidak peduli jawaban polos tersebut dapat diwujudkan oleh anak mereka kelak atau tidak.
Dalam pencapaian itu, banyak sekali proses yang harus dilewati. Mulai dari bagaimana orangtua mengarahkan anak mereka dari balita hingga mereka mampu menentukan sendiri apa yang mereka inginkan. Proses tersebut tentu tidak akan berlangsung begitu saja. Dibutuhkan, serupa alat, untuk mencapainya yaitu pendidikan.
Mungkin terlalu melelahkan jika harus berbicara mengenai pendidikan yang ada di Indonesia. Banyak sekali problem yang menghinggapi dunia pendidikan di Indonesia. Yang paling ketara adalah soal Ujian Nasional (UN) yang baru saja usai dilaksanakan. Hampir setiap tahun selalu ada pro kontra penyelanggaraan UN. Kasus yang paling tersorot untuk tahun ini adalah pengulangan UN di sejumlah sekolah. Pengulangan ini tidak hanya menguras dana pemerintah tetapi juga berdampak pada psikologi siswa itu sendiri.
Tidak hanya sampai disitu saja. Masalah pembayaran uang masik sekolah juga masih selau menjadi perdebatan. Satu sisi menerima dengan legowo kenaikan uang masuk sekolah, satu sisi menolak keras dengan mahalnya dana pendidikan. Akibatnya banyak anak-anak kuarang mampu yang belum berkesempatan untuk menempuh pendidikan. Hal ini pula yang menimbulkan banyak pro kontra di masyarakat.
Masalah lain yang tidak kalah jamak ditemui di dunia pendidikan di Indonesia adalah masalah sarana dan prasarana. Masih banyak ditemukan sekolah-sekolah yang belum sepenuhnya memiliki sarana dan prasarana pendukung proses belajar mengajar yang memadai. Bahkan masih ada beberapa sekolah yang tidak layak huni. Ini kontras dengan isi UUD ’45 yang menyatakan bahwa, “Pendidikan adalah hak bagi setiap warga negara”, begitu yang tercantum di dalam UUD 1945.
Pun demikian, pendidikan sendiri tidak melulu berasal dari pendidikan formal. Bahkan pendidikan yang paling ditekankan adalah pendidikan di lingkup keluarga. Di sanalah anak diajarkan dasar pemahaman tentang segala hal. Jika pemahaman dari keluarganya kurang maka anak pun akan menerimanya dengan kurang pula. Peran orangtua sangat dibutuhkan disini.
Pendidikan bukanlah barang yang dapat didagangkan, bukan pula barang yang dapat dilupakan begitu saja, layaknya rongsokan. Melalui pendidikanlah sebuah cita-cita dapat tercapai. Layaknya kendaraan, pendidikan yang diisi dengan mesin yang paling bagus, maka akan dapat melaju dengan cepat pula (lancar).

GEDUNG DAKSINAPATI, CASING PENARIK MATA

Cantik di luar, bobrok di dalam?

Pemugaran gedung FIP yang didanai IDB cukup menarik perhatian mahasiswa. Bagaimana tidak? Dari dana tersebut, FIP merenovasi fisik luar gedung. Tampilan luar yang minimalis dan eye cathching cukup menjadi magnet bagi mata untuk memandang agak lama. Proses mempercantik tampilan luar alias casing sudah berlangsung hampir satu tahun belakangan ini, membuat gedung Daksinapati terlihat seperti lahir kembali alias,Reborn. Dari segi publikasi dan pemasaran, wajah baru FIP ini dapat menjadi pertimbangan untuk dipilih oleh calon mahasiswa yang sedang mencari-cari perguruan tinggi.
Namun sedikit disayangkan, pemugaran casing Daksinapati tersebut tidak serta merta perbaikan isi gedung. Ada hal yang-hal yang terlewatkan dan luput dari perhatian para petinggi Dekanat. Dari fakta yang terlihat di Daksinapati, banyak keluhan dari mahasiswa karena sarana dan prasarana di FIP minim kualitas dan kuantitasnya. Sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan mahasiswa selama di kampus. Banyak sarana dan prasarana yang bisa dikatakan masuk daftar list fasilitas umum yang harus segera diperbaiki.
Sebut saja sarana ruang kuliah yang jumlahnya sedikit. Ruang kuliah yang disediakan tidak dapat menampung quota warga belajar FIP yang jumlahnya 4000-an mahasiswa. Tak heran banyak gontok-gontokan antar sekelompok mahasiswa untuk memperebutkan ruang kuliah. Untuk fasilitas kamar mandi saja, jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa FIP dan itupun beberapa kamar mandi tidak berfungsi dengan semestinya. Contoh, kamar mandi lantai dua yang gentengnya bocor karena air resapan dari kamar mandi lantai tiga.
Menanggapi keluhan mahasiswa terhadap sarana dan prasarana yang belum ada tindak lanjut sampai sekarang, Kasubag Perlengkapan FIP Marhasan mengatakan bahwa keluh kesah itu sudah disampaikan ke Kabag Perlengkapan. Namun saat ini belum ditindak lanjuti mungkin karena belum ada anggaran untuk perbaikan sarana dan prasarana.
Perihal belum adanya anggaran mendapat anggukan pula dari Kabag Perengkapan FIP Eko Purwanto. Beliau mengatakan semua sarana prasarana yang rusak pada tahun ini harus menunggu anggaran perbaikan pada tahun yang akan datang. Sarana prasarana yang rusak tidak bisa diperbaiki secara langsung dan cepat karena berkaitan dengan anggaran. (Lip: Fitri Rahmawati, Hery Madkuri, Annisatul Fitriah)

DITIADAKANNYA PEMBANTU DEKAN III (PD III) FIP UNJ


Penulis: Dian Ayu Novalia
Ketua Umum Forum Idekita; Pendapat Pribadi


Pembantu Dekan III dipindah kerja. Bidang kemahasiswaan seolah tersingkirkan. Padahal 2011 saat pemberhentian menjadi PD III masih lama. Lalu, siapa penggantinya?


Pengangkatan pemimpin sedang marak terjadi. Sebut saja pengangkatan orang penting untuk negara tercinta Indonesia yaitu SBY dan Boediono. Universitas Negeri Jakarta pun mendapatkan Rektor baru walaupun dengan wajah lama yaitu Prof. Bedjo. Perhelatan perdebatan pun dilaksanakan sebelum pemilihan Rektor. Mahasiswa pun ikut serta melihat visi misi yang diusung oleh ketiganya. Tanya jawab secara langsung pun dapat dilakukan.

Berbeda dengan keberadaan salah satu pemimpin yang ada di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Ketika banyak orang menginginkan untuk menjadi pemimpin agar dapat memberikan pelayanan dan mengabdi kepada rakyat, salah satu Pembantu Dekan FIP yaitu yang ada di bidang kemahasiswaan malah ditiadakan.

Jabatan PD III
Ketika ditemui diruangnya yang baru (29/10/09), Sumantri yang saat itu sudah tidak menjabat PD III FIP mengatakan bahwa ia tidak dapat memberikan keputusan atau tanda tangan apapun sejak tanggal 27 Oktober 2009. “Sehari sebelumnya saya diminta oleh Pak Dekan untuk memakai jas rapi untuk menghadiri pelantikan di gedung Rektorat,” kata beliau. Ketika di rektorat, ia pun dilantik untuk menjadi sekretaris pada PAUD Pascasarjana. Sebelumnya memang sudah ada pembicaraan antara beliau dengan Rektor UNJ mengenai hal ini. Beliaupun tidak dapat menolak setelah juga meminta pendapat dari Dekan FIP yang menjadi atasannya langsung.
Padahal amanah menjadi PD III masih sampai tahun 2011. Kegiatan di bidang kemahasiswaan seolah tidak sebanding dengan bidang akademik dan sarana prasarana. Padahal, FIP tidak dapat bergerak sendiri tanpa keaktifan organisasi mahasiswanya. Bila kegiatan mahasiswa mati, suram juga keadaan rumah FIP. Kebanggaan bukan hanya dapat diraih dari prestasi akademik mahasiswa. Tapi dapat pula dilihat dari kegiatan mahasiswanya.
Saat ini, jabatan PD III dirangkap oleh Yuliani selaku PD I FIP. Double job pun terjadi. Tugas menjadi PD I saja sudah banyak. Apalagi berkenaan dengan akademik. Hal inilah yang menjadi jantungnya Fakultas karena penilaian banyak diambil dari akademiknya. Seperti pemberdayaan dosen-dosen agar memberikan pembelajaran yang inovatif, meningkatkan prestasi mahasiswa dalam hal nilai kuliah, akreditasi dan sebagainya. Lalu, bagaimana aplikasinya dan keefektifannya bila merangkap pula menjadi PD III?
Opmawa di FIP ada 8 ditambah dengan BEM FIP dan BPM. Kemudian ormawa ada 4. sehingga semuanya ada 14. kegiatan dan progam kerja masing-masing ormawa dan opmawa tentu berbeda-beda serta waktunya. Bertemu untuk mendapatkan bimbingan dan masukan kepada PD III tentu memiliki intensitas yang cukup sering. Jelas, kesibukan menjadi PD I pun dapat menghambat kinerja mereka.

Sosialisasi Tidak Ada
Pemberhentian ini terkesan sangat mendadak. Apalagi Sumantri sampai saat ini belum menunjukkan gigi untuk berdialog dengan mahasiswa mengenai pindahnya ia ke Pascasarjana. Dekan FIP pun seolah diam saja dan berlaku sama. Padahal banyak hambatan yang ditemui oleh para mahasiswa ketika PD III dihilangkan.
Sementara itu, juga tidak ada kabar mengenai penggantian PD III yang baru. Ketidakjelasan merayapi tubuh FIP. Sangat dimungkinkan kefokusan PD I dapat mendua karena penambahan job. Tugas menjadi PD III bukan hal yang sepele. Dengan berdialog antar segenap warga FIP, baik pemimpin, dosen, dan mahasiswa tentunya akan membuka persepsi dan pencerahan. Meskipun penyamaan persepsi harusnya dilaksanakan sebelum tanggal 27 Oktober 2009 lalu.